Sejarah Pekerja Migran Indonesia Di Jaman Penjajahan Belanda

Istilah Pekerja Migran mungkin baru populer sekarang ini, tapi sebenarnya pekerja migran itu sudah ada sejak jaman dulu, kalau di Indonesia mungkin lebih enak kita mulai dari jaman Belanda. Orang Jawa, Sunda, dan Madura “dikirim” ke Sumatera bukan karena mau cari gaji besar, tapi karena sistem kolonial butuh tenaga murah buat perkebunan.Ini sejarahnya.

1. Awal Mula: Kebijakan Tanam Paksa dan Kekurangan Tenaga Kerja
Setelah sistem Tanam Paksa 1830–1870 runtuh, Belanda tetap butuh hasil bumi dari Hindia Belanda. Perkebunan tembakau, karet, teh, dan kelapa sawit di Deli, Sumatera Timur, tumbuh pesat tahun 1870-an.Masalahnya, orang lokal Sumatera Timur nggak cukup buat kerja di perkebunan yang luasnya ribuan hektar. Belanda pun mencari tenaga dari Jawa dan Madura yang saat itu padat penduduk dan sering paceklik.

2. Sistem Kuli Kontrak: Migrasi Kerja Paksa yang “Legal”
Tahun 1880, Belanda mengesahkan Koelie Ordonantie. Ini aturan yang melegalkan sistem kuli kontrak. Calon pekerja direkrut agen-agen di desa Jawa, dikasih uang muka, lalu dikirim pakai kapal ke Medan.Kontraknya biasanya 3 tahun. Kedengarannya resmi, tapi di lapangan jauh dari adil:Gaji kecil: 20-30 sen per hari, sering dipotong buat makan dan tempat tinggal.Hukuman fisik: Telat kerja, sakit, atau protes bisa kena cambuk atau kurungan.Susah pulang: Kalau mau pulang sebelum kontrak habis, harus bayar denda besar yang nggak mungkin dibayar.Banyak yang datang atas nama “merantau”, tapi pulangnya cuma nama. Mereka yang selamat akhirnya menetap dan jadi cikal bakal komunitas Jawa di Langkat, Serdang, Deli.

3. Kondisi Hidup di Perkebunan Deli
Perkebunan Deli dikenal sebagai “neraka hijau”. Laporan dokter dan jurnalis Belanda sendiri di tahun 1900-an menyebut angka kematian kuli mencapai 20-30% per tahun karena malaria, kolera, dan kekerasan mandor.Tempat tinggalnya disebut barak kuli: satu ruangan panjang diisi puluhan orang, tanpa privasi. Makanan minim, air bersih langka. Meski begitu, pengiriman kuli terus jalan. Antara 1880–1940, lebih dari 200.000 orang Jawa dikirim ke Sumatera Timur. Ini salah satu migrasi kerja paksa terbesar di Asia Tenggara.

4. Dampaknya Sampai Sekarang
Sistem kuli kontrak Belanda meninggalkan 2 jejak besar:

  1. Diaspora Jawa di Sumatera: Bahasa Jawa ngoko masih dipakai di banyak desa di Sumut. Tradisi wayang, slametan, juga hidup sampai sekarang.
  2. Stigma “Kuli”: Kata kuli jadi identik dengan kerja kasar dan tertindas. Makanya sampai sekarang banyak orang nggak mau dibilang kuli, meski kerja di luar negeri.


“Semoga artikel ini bermanfaat untuk anda dalam mengambil keputusan, jika ingin berkontribusi terhadap website ini silahkan melakukan donasi di link –> Donasi melalui QRIS

Kami redaksi migranhub mengucapkan terima kasih